Fitur pada perangkat dual-OS membuat banyak pengguna bingung dan kesulitan. Dengan memiliki sistem operasi ganda, jumlah aplikasi yang dipakai pengguna menjadi dua kali lipat, dengan asumsi bahwa mereka meng-install aplikasi yang sama di dua platform berbeda justru malah akan memakan ruang penyimpanan internal smartphone yang terbatas.Smartphone dual-OS lebih berguna bagi para developer aplikasi ketimbang pengguna awam, dimana pengguna harus me-restart perangkatnya untuk berganti sistem operasi karena salah menggunakan sistem operasi saat mengerjakan sesuatu tetapi berbeda dengan developer yang harus mencoba aplikasi buatan mereka di dua platform berbeda.
Para vendor seperti Asus dan Huawei telah diminta Google dan Microsoft untuk menghentikan produksi perangkat dual-OS-nya karena pada aplikasi Google dan Microsoft tidak saling terhubung antara satu dengan yang lainnya dan tidak mengakui keberadaan masing-masing dalam sistem.
Sumber: Kompas